KAYA? PENTING?
Wah … siapa sih yang menulis judul itu? Apa gak salah tu. Zaman seperti ini masih menanyakan apakah kaya itu penting. Ya sudah pastilah. Semua sahabat sekalian pasti akan menjawab (bahkan dengan berteriak-teriak) yaaaaaa, penting buaaangeet. Hari gini gak ada uang mau hidup pakai apa? Hehehe.
Sewaktu saya belajar Bahasa Inggris di Pare, malam itu tutor kami meminta kami untuk debat dalam bahasa Inggris. Ia pun membagi kami menjadi beberapa kelompok. Lalu, ia memberi sebuah judul untuk diperdebatkan; “Lebih penting manakah, guru atau petani?”. Kebetulan pada saat itu (walaupun di dunia ini nggak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh yang di atas), saya berada di group “Lebih penting petani”, sehingga saya dan teman-teman harus ber-argumen bahwa petani itu lebih penting dari pada guru. Debat pun dimulai, group “guru” mendapat giliran pertama untuk menyampaikan statement-nya. “guru lebih penting, mengapa? Karena ia akan memberikan ilmu yang akan menyelamatkan bangsa. Dan, petani bisa apa? Menghancurkan tanah dengan kerbaunya”. Ujar tim guru setengah meremehkan.
Naah, lalu giliran tim kami “petani” yang menyuarakan pendapatnya. Saya berdiri tegap. Memegang kertas coretan ide yang hendak saya utarakan. Sebelumnya, saya ucapkan salam dan sapa. Lalu saya keluarkan statement secara runtut dan jelas. “manusia membutuhkan makanan untuk hidup, itu adalah hal paling vital setelah oksigen dan air. Tanpa makanan, manusia akan mati. Tanpa petani, manusia tidak dapat memproduksi makanan dan itu artinya mereka akan mati. Bayangkan, semua petani berpindah profesi menjadi guru atau PNS, manusia mau makan apa? Makan ilmu? Hehehe.
Tanpa merendahkan profesi sebagai guru, saya percaya bahwa petani itu lebih berpotensi kaya daripada guru. Pasalnya, petani bekerja dalam ketidakpastian.. Mereka tidak tahu berapa omzet per bulan. Bisa saja tinggi saat hasil panennya banyak, namun juga bisa merosot kalau gagal panen. Tetapi, ketidakpastian adalah produksi uang terbesar dan ketidakpastian itu yang akan mengantarkan pada kekayaan. Bisa saja petani memiliki ribuan hektar sawah yang dipanen tiap bulannya. Pengusaha-pengusaha yang bergelut dalam hal yang tidak pasti hasilnya, tidak pasti gajinya, tidak pasti incomenya, namun mereka kaya raya.
Nah sementara pegawai negeri, mereka mendapat gaji pasti setiap bulannya, tak perlu khawatir akan merosotnya pelanggan atau hasil panen. Namun pernahkah anda melihat ada pegawai negri sukses yang kaya raya? Yang rumahnya bertingkat lima, yang punya Ferrari di terasnya, yang naik haji tiap tahunnya, yang memberikan miliaran dolar kepada rakyat jelata, yang keliling dunia bersama sang istri, yang berdakwah dengan materi, yang membangun mesjid, yang menggratiskan anak yatim sekolah, yang punya yayasan dan yang berinvestasi untuk anak negeri. Apa ada PNS yang seperti itu? Saya sangat setuju kalau sahabat cinta teriakkan, TIDAK ADA (mohon maaf bukannya menjelekkan pegawai negeri, mereka tetap dibutuhkan sebagai pahlawan negara) dan kecuali si PNS memiliki bisnis lain.
Nah, petani bisa saja jadi kaya. Bayangkan, seorang petani memiliki lahan berjuta hektar. Hasil panennya bahkan di ekspor ke Negara-negara di Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Wah, berapa income perbulan yang mengalir ke rekening? Berapa pemasukan pemerintah dari pajaknya? Berapa sedekahnya? Berpa anak yang bisa ditolong untuk bersekolah? Berapa petani Indonesia yang bisa bekerja untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dahsyaaat. Jadi ketidakpastian itu mengalirkan keuntungan seperti air terjun.
Sahabat cinta,
Uang bukanlah segalanya. Tapi di era globalisasi dan modernisasi ini, dengan sangat lantang saya teriakkan “Segalanya Butuh Uaaaaanggg”. Sudah banyak sekali orang gila karena uang. Hehehe. Tapi bukan saya. Sekali lagi, saya tidak gila karena uang.
STOP KERJA !
Apa memang betul, orang bisa gila karena uang?. Betul. Buktinya, pejabat-pejabat yang jelas-jelas gajinya sangat tinggi, kasih bersedia dengan ikhlas melakukan korupsi besar-besaran. Betul? Betul.
Buanyak rakyat Indonesia yang bekerja mati-matian, menghabiskan waktunya hanya untuk uang. Contohnya, karyawan perusahaan Nike di Indonesia. Mereka mulai bekerja dari jam 7.00 pagi sampai kadang-kadang tengah malam baru berhenti. Tutor saya bilang, “itu perbudakan global namanya”. Yah, demi uang.
Bill Gates dan Warrant Buffet saja, yang pernah menyandang gelar “orang terkaya di dunia” masih saja terus mengembangkan bisnis dan perusahaannya meskipun uangnya sudah cukup untuk membeli benua Amerika. Waaaw. Uang, uang, uang.
Sahabatku, banyak orang yang menganggap uang itu tidak penting. Mereka hidup sederhana, seadanya. Kalau ada nasi ya makan, kalau ada singkong ya makan, kalau ada air ya minum. Punya pekerjaan sederhana, gaji biasa saja. Namun, kerjanya seumur hidup. Bukan saya mengajari untuk tidak bersyukur, tapi justru sebaliknya, mari kita bersyukur. Dengan apa? Jawabannya dengan menjadi kaya. Bersyukur bukanlah diam dan tak berbuat apa-apa dengan pekerjaan biasa, gaji biasa. Namun, bersyukur adalah terus berusaha untuk menjaga dan meningkatkan apapun yang kita dapatkan. Maka dari itu, tingkatkan pendapatan anda. Lagi dan lagi. Jika jatuh ya bangkit lagi. Berdiri lagi.
Jangan mau selamanya bekerja demi uang. Jangan habiskan masa hidup dengan bekerja. Hidup Cuma sekali, maukah anda di waktu yang singkat ini anda hanya bekerja tanpa menikmati masa tua dengan ibadah? Bekerjalah sekarang, nanti kalau sudah kaya. Stop kerja. Enjoy dan nikmati hidup dengan ibadah, sedekah, dakwah, bakti social, zikir, mendidik generasi muda, olahraga, membangun mesjid, haji tiap tahun, umrah, tamasya keliling dunia, mendirikan yayasan, nonton piala dunia dan F1, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang memberikan keuntungan dunia akhirat. Indah bukan?
Kesimpulannya, kaya itu penting. Memang uang bukan segalanya, tapi dengan uang kita dapat mencapai segala impian. Jadikan uang jalan menuju surga.
Tuesday, 12 June 2012
PENTINGKAH JADI KAYA??
Bismillahirrahmanirrahim
in the name of Allah
KAYA? PENTING?
Wah … siapa sih yang menulis judul itu? Apa gak salah tu. Zaman seperti ini masih menanyakan apakah kaya itu penting. Ya sudah pastilah. Semua sahabat sekalian pasti akan menjawab (bahkan dengan berteriak-teriak) yaaaaaa, penting buaaangeet. Hari gini gak ada uang mau hidup pakai apa? Hehehe.
Sewaktu saya belajar Bahasa Inggris di Pare, malam itu tutor kami meminta kami untuk debat dalam bahasa Inggris. Ia pun membagi kami menjadi beberapa kelompok. Lalu, ia memberi sebuah judul untuk diperdebatkan; “Lebih penting manakah, guru atau petani?”. Kebetulan pada saat itu (walaupun di dunia ini nggak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh yang di atas), saya berada di group “Lebih penting petani”, sehingga saya dan teman-teman harus ber-argumen bahwa petani itu lebih penting dari pada guru. Debat pun dimulai, group “guru” mendapat giliran pertama untuk menyampaikan statement-nya. “guru lebih penting, mengapa? Karena ia akan memberikan ilmu yang akan menyelamatkan bangsa. Dan, petani bisa apa? Menghancurkan tanah dengan kerbaunya”. Ujar tim guru setengah meremehkan.
Naah, lalu giliran tim kami “petani” yang menyuarakan pendapatnya. Saya berdiri tegap. Memegang kertas coretan ide yang hendak saya utarakan. Sebelumnya, saya ucapkan salam dan sapa. Lalu saya keluarkan statement secara runtut dan jelas. “manusia membutuhkan makanan untuk hidup, itu adalah hal paling vital setelah oksigen dan air. Tanpa makanan, manusia akan mati. Tanpa petani, manusia tidak dapat memproduksi makanan dan itu artinya mereka akan mati. Bayangkan, semua petani berpindah profesi menjadi guru atau PNS, manusia mau makan apa? Makan ilmu? Hehehe.
Tanpa merendahkan profesi sebagai guru, saya percaya bahwa petani itu lebih berpotensi kaya daripada guru. Pasalnya, petani bekerja dalam ketidakpastian.. Mereka tidak tahu berapa omzet per bulan. Bisa saja tinggi saat hasil panennya banyak, namun juga bisa merosot kalau gagal panen. Tetapi, ketidakpastian adalah produksi uang terbesar dan ketidakpastian itu yang akan mengantarkan pada kekayaan. Bisa saja petani memiliki ribuan hektar sawah yang dipanen tiap bulannya. Pengusaha-pengusaha yang bergelut dalam hal yang tidak pasti hasilnya, tidak pasti gajinya, tidak pasti incomenya, namun mereka kaya raya.
Nah sementara pegawai negeri, mereka mendapat gaji pasti setiap bulannya, tak perlu khawatir akan merosotnya pelanggan atau hasil panen. Namun pernahkah anda melihat ada pegawai negri sukses yang kaya raya? Yang rumahnya bertingkat lima, yang punya Ferrari di terasnya, yang naik haji tiap tahunnya, yang memberikan miliaran dolar kepada rakyat jelata, yang keliling dunia bersama sang istri, yang berdakwah dengan materi, yang membangun mesjid, yang menggratiskan anak yatim sekolah, yang punya yayasan dan yang berinvestasi untuk anak negeri. Apa ada PNS yang seperti itu? Saya sangat setuju kalau sahabat cinta teriakkan, TIDAK ADA (mohon maaf bukannya menjelekkan pegawai negeri, mereka tetap dibutuhkan sebagai pahlawan negara) dan kecuali si PNS memiliki bisnis lain.
Nah, petani bisa saja jadi kaya. Bayangkan, seorang petani memiliki lahan berjuta hektar. Hasil panennya bahkan di ekspor ke Negara-negara di Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Wah, berapa income perbulan yang mengalir ke rekening? Berapa pemasukan pemerintah dari pajaknya? Berapa sedekahnya? Berpa anak yang bisa ditolong untuk bersekolah? Berapa petani Indonesia yang bisa bekerja untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dahsyaaat. Jadi ketidakpastian itu mengalirkan keuntungan seperti air terjun.
Sahabat cinta,
Uang bukanlah segalanya. Tapi di era globalisasi dan modernisasi ini, dengan sangat lantang saya teriakkan “Segalanya Butuh Uaaaaanggg”. Sudah banyak sekali orang gila karena uang. Hehehe. Tapi bukan saya. Sekali lagi, saya tidak gila karena uang.
STOP KERJA !
Apa memang betul, orang bisa gila karena uang?. Betul. Buktinya, pejabat-pejabat yang jelas-jelas gajinya sangat tinggi, kasih bersedia dengan ikhlas melakukan korupsi besar-besaran. Betul? Betul.
Buanyak rakyat Indonesia yang bekerja mati-matian, menghabiskan waktunya hanya untuk uang. Contohnya, karyawan perusahaan Nike di Indonesia. Mereka mulai bekerja dari jam 7.00 pagi sampai kadang-kadang tengah malam baru berhenti. Tutor saya bilang, “itu perbudakan global namanya”. Yah, demi uang.
Bill Gates dan Warrant Buffet saja, yang pernah menyandang gelar “orang terkaya di dunia” masih saja terus mengembangkan bisnis dan perusahaannya meskipun uangnya sudah cukup untuk membeli benua Amerika. Waaaw. Uang, uang, uang.
Sahabatku, banyak orang yang menganggap uang itu tidak penting. Mereka hidup sederhana, seadanya. Kalau ada nasi ya makan, kalau ada singkong ya makan, kalau ada air ya minum. Punya pekerjaan sederhana, gaji biasa saja. Namun, kerjanya seumur hidup. Bukan saya mengajari untuk tidak bersyukur, tapi justru sebaliknya, mari kita bersyukur. Dengan apa? Jawabannya dengan menjadi kaya. Bersyukur bukanlah diam dan tak berbuat apa-apa dengan pekerjaan biasa, gaji biasa. Namun, bersyukur adalah terus berusaha untuk menjaga dan meningkatkan apapun yang kita dapatkan. Maka dari itu, tingkatkan pendapatan anda. Lagi dan lagi. Jika jatuh ya bangkit lagi. Berdiri lagi.
Jangan mau selamanya bekerja demi uang. Jangan habiskan masa hidup dengan bekerja. Hidup Cuma sekali, maukah anda di waktu yang singkat ini anda hanya bekerja tanpa menikmati masa tua dengan ibadah? Bekerjalah sekarang, nanti kalau sudah kaya. Stop kerja. Enjoy dan nikmati hidup dengan ibadah, sedekah, dakwah, bakti social, zikir, mendidik generasi muda, olahraga, membangun mesjid, haji tiap tahun, umrah, tamasya keliling dunia, mendirikan yayasan, nonton piala dunia dan F1, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang memberikan keuntungan dunia akhirat. Indah bukan?
Kesimpulannya, kaya itu penting. Memang uang bukan segalanya, tapi dengan uang kita dapat mencapai segala impian. Jadikan uang jalan menuju surga.
KAYA? PENTING?
Wah … siapa sih yang menulis judul itu? Apa gak salah tu. Zaman seperti ini masih menanyakan apakah kaya itu penting. Ya sudah pastilah. Semua sahabat sekalian pasti akan menjawab (bahkan dengan berteriak-teriak) yaaaaaa, penting buaaangeet. Hari gini gak ada uang mau hidup pakai apa? Hehehe.
Sewaktu saya belajar Bahasa Inggris di Pare, malam itu tutor kami meminta kami untuk debat dalam bahasa Inggris. Ia pun membagi kami menjadi beberapa kelompok. Lalu, ia memberi sebuah judul untuk diperdebatkan; “Lebih penting manakah, guru atau petani?”. Kebetulan pada saat itu (walaupun di dunia ini nggak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh yang di atas), saya berada di group “Lebih penting petani”, sehingga saya dan teman-teman harus ber-argumen bahwa petani itu lebih penting dari pada guru. Debat pun dimulai, group “guru” mendapat giliran pertama untuk menyampaikan statement-nya. “guru lebih penting, mengapa? Karena ia akan memberikan ilmu yang akan menyelamatkan bangsa. Dan, petani bisa apa? Menghancurkan tanah dengan kerbaunya”. Ujar tim guru setengah meremehkan.
Naah, lalu giliran tim kami “petani” yang menyuarakan pendapatnya. Saya berdiri tegap. Memegang kertas coretan ide yang hendak saya utarakan. Sebelumnya, saya ucapkan salam dan sapa. Lalu saya keluarkan statement secara runtut dan jelas. “manusia membutuhkan makanan untuk hidup, itu adalah hal paling vital setelah oksigen dan air. Tanpa makanan, manusia akan mati. Tanpa petani, manusia tidak dapat memproduksi makanan dan itu artinya mereka akan mati. Bayangkan, semua petani berpindah profesi menjadi guru atau PNS, manusia mau makan apa? Makan ilmu? Hehehe.
Tanpa merendahkan profesi sebagai guru, saya percaya bahwa petani itu lebih berpotensi kaya daripada guru. Pasalnya, petani bekerja dalam ketidakpastian.. Mereka tidak tahu berapa omzet per bulan. Bisa saja tinggi saat hasil panennya banyak, namun juga bisa merosot kalau gagal panen. Tetapi, ketidakpastian adalah produksi uang terbesar dan ketidakpastian itu yang akan mengantarkan pada kekayaan. Bisa saja petani memiliki ribuan hektar sawah yang dipanen tiap bulannya. Pengusaha-pengusaha yang bergelut dalam hal yang tidak pasti hasilnya, tidak pasti gajinya, tidak pasti incomenya, namun mereka kaya raya.
Nah sementara pegawai negeri, mereka mendapat gaji pasti setiap bulannya, tak perlu khawatir akan merosotnya pelanggan atau hasil panen. Namun pernahkah anda melihat ada pegawai negri sukses yang kaya raya? Yang rumahnya bertingkat lima, yang punya Ferrari di terasnya, yang naik haji tiap tahunnya, yang memberikan miliaran dolar kepada rakyat jelata, yang keliling dunia bersama sang istri, yang berdakwah dengan materi, yang membangun mesjid, yang menggratiskan anak yatim sekolah, yang punya yayasan dan yang berinvestasi untuk anak negeri. Apa ada PNS yang seperti itu? Saya sangat setuju kalau sahabat cinta teriakkan, TIDAK ADA (mohon maaf bukannya menjelekkan pegawai negeri, mereka tetap dibutuhkan sebagai pahlawan negara) dan kecuali si PNS memiliki bisnis lain.
Nah, petani bisa saja jadi kaya. Bayangkan, seorang petani memiliki lahan berjuta hektar. Hasil panennya bahkan di ekspor ke Negara-negara di Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Wah, berapa income perbulan yang mengalir ke rekening? Berapa pemasukan pemerintah dari pajaknya? Berapa sedekahnya? Berpa anak yang bisa ditolong untuk bersekolah? Berapa petani Indonesia yang bisa bekerja untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dahsyaaat. Jadi ketidakpastian itu mengalirkan keuntungan seperti air terjun.
Sahabat cinta,
Uang bukanlah segalanya. Tapi di era globalisasi dan modernisasi ini, dengan sangat lantang saya teriakkan “Segalanya Butuh Uaaaaanggg”. Sudah banyak sekali orang gila karena uang. Hehehe. Tapi bukan saya. Sekali lagi, saya tidak gila karena uang.
STOP KERJA !
Apa memang betul, orang bisa gila karena uang?. Betul. Buktinya, pejabat-pejabat yang jelas-jelas gajinya sangat tinggi, kasih bersedia dengan ikhlas melakukan korupsi besar-besaran. Betul? Betul.
Buanyak rakyat Indonesia yang bekerja mati-matian, menghabiskan waktunya hanya untuk uang. Contohnya, karyawan perusahaan Nike di Indonesia. Mereka mulai bekerja dari jam 7.00 pagi sampai kadang-kadang tengah malam baru berhenti. Tutor saya bilang, “itu perbudakan global namanya”. Yah, demi uang.
Bill Gates dan Warrant Buffet saja, yang pernah menyandang gelar “orang terkaya di dunia” masih saja terus mengembangkan bisnis dan perusahaannya meskipun uangnya sudah cukup untuk membeli benua Amerika. Waaaw. Uang, uang, uang.
Sahabatku, banyak orang yang menganggap uang itu tidak penting. Mereka hidup sederhana, seadanya. Kalau ada nasi ya makan, kalau ada singkong ya makan, kalau ada air ya minum. Punya pekerjaan sederhana, gaji biasa saja. Namun, kerjanya seumur hidup. Bukan saya mengajari untuk tidak bersyukur, tapi justru sebaliknya, mari kita bersyukur. Dengan apa? Jawabannya dengan menjadi kaya. Bersyukur bukanlah diam dan tak berbuat apa-apa dengan pekerjaan biasa, gaji biasa. Namun, bersyukur adalah terus berusaha untuk menjaga dan meningkatkan apapun yang kita dapatkan. Maka dari itu, tingkatkan pendapatan anda. Lagi dan lagi. Jika jatuh ya bangkit lagi. Berdiri lagi.
Jangan mau selamanya bekerja demi uang. Jangan habiskan masa hidup dengan bekerja. Hidup Cuma sekali, maukah anda di waktu yang singkat ini anda hanya bekerja tanpa menikmati masa tua dengan ibadah? Bekerjalah sekarang, nanti kalau sudah kaya. Stop kerja. Enjoy dan nikmati hidup dengan ibadah, sedekah, dakwah, bakti social, zikir, mendidik generasi muda, olahraga, membangun mesjid, haji tiap tahun, umrah, tamasya keliling dunia, mendirikan yayasan, nonton piala dunia dan F1, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang memberikan keuntungan dunia akhirat. Indah bukan?
Kesimpulannya, kaya itu penting. Memang uang bukan segalanya, tapi dengan uang kita dapat mencapai segala impian. Jadikan uang jalan menuju surga.
Saturday, 31 December 2011
BERBURU BERITA KE ANGSO DUO
Bismillahirrahmanirrahim in the name of Allah
Mahasantri Ma’had al-Jami’ah yang tergabung dalam tim redaksi INTI (Inspirasi Mahasantri) melaksanakan praktik latihan mencari berita di pasar Angso Duo tadi pagi (21/12). Alif Rahman(BI) dan kawan-kawan sangat antusias dan merasa tertantang dengan adanya program ini. Latihan di pandu oleh pelatih yang selama ini telah memberikan bimbingan, Andika Arnoldi, S.Sos. Tujuannya adalah untuk memantapkan kemampuan para jurnalis muda untuk mencari berita dan dapat menerbitkannya di majalah INTI.
Tim INTI yang berjumlah 18 orang dibagi menjadi 6 bagian dan masing-masing kelompok diberi tugas. tugas yang diberikan adalah mencari berita tentang harga sembako, harga daging, harga cabai, baju-baju bekas dan perubahan pasar tradisional ke pasar modern.
Saat bertugas, tim INTI banyak menemukan kendala dan hambatan, seperti pedagang yang enggan berkomentar, suasana pasar yang masih becek dan bau, sulit menemukan tempat penjual sembako yang di cari dan lain-lain. Namun akhirnya tim INTI pun dapat menyelesaikan tugas pencarian berita tersebut dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.
“Banyak nian kendalanyo, becek, bau, dak tahan bau daging tu. Udah tu muter-muter lagi. Tapi ternyata seru jugo kalo di nikmati.” Ujar AA, salah satu mahasantri.
Setelah itu, tim kembali berkumpul di Labor Bahasa Ma’had al-Jami’ah guna memberikan laporan tentang informasi yang telah di dapatkan. Pelatih mengoreksi dan memberi masukan tentang cara kerja mereka sehingga untuk kedepannya akan tercipta keprofesionalan.
“kami sudah keliling pasar Tanya-tanya harga, untuk sembako nampaknya stabil menjelang tahun baru ni, Cuma minyak sayur yang naik dari Rp. 9 ribu menjadi Rp. 10 ribu. Kalo minyak tanah sudah naik sejak beberapa bulan lalu dicabut subsidinya oleh pemerintah” Ujar Andes Saputra (EI). kim
Bismillahirrahmanirrahim in the name of Allah
Mahasantri Ma’had al-Jami’ah yang tergabung dalam tim redaksi INTI (Inspirasi Mahasantri) melaksanakan praktik latihan mencari berita di pasar Angso Duo tadi pagi (21/12). Alif Rahman(BI) dan kawan-kawan sangat antusias dan merasa tertantang dengan adanya program ini. Latihan di pandu oleh pelatih yang selama ini telah memberikan bimbingan, Andika Arnoldi, S.Sos. Tujuannya adalah untuk memantapkan kemampuan para jurnalis muda untuk mencari berita dan dapat menerbitkannya di majalah INTI.
Tim INTI yang berjumlah 18 orang dibagi menjadi 6 bagian dan masing-masing kelompok diberi tugas. tugas yang diberikan adalah mencari berita tentang harga sembako, harga daging, harga cabai, baju-baju bekas dan perubahan pasar tradisional ke pasar modern.
Saat bertugas, tim INTI banyak menemukan kendala dan hambatan, seperti pedagang yang enggan berkomentar, suasana pasar yang masih becek dan bau, sulit menemukan tempat penjual sembako yang di cari dan lain-lain. Namun akhirnya tim INTI pun dapat menyelesaikan tugas pencarian berita tersebut dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.
“Banyak nian kendalanyo, becek, bau, dak tahan bau daging tu. Udah tu muter-muter lagi. Tapi ternyata seru jugo kalo di nikmati.” Ujar AA, salah satu mahasantri.
Setelah itu, tim kembali berkumpul di Labor Bahasa Ma’had al-Jami’ah guna memberikan laporan tentang informasi yang telah di dapatkan. Pelatih mengoreksi dan memberi masukan tentang cara kerja mereka sehingga untuk kedepannya akan tercipta keprofesionalan.
“kami sudah keliling pasar Tanya-tanya harga, untuk sembako nampaknya stabil menjelang tahun baru ni, Cuma minyak sayur yang naik dari Rp. 9 ribu menjadi Rp. 10 ribu. Kalo minyak tanah sudah naik sejak beberapa bulan lalu dicabut subsidinya oleh pemerintah” Ujar Andes Saputra (EI). kim
Friday, 30 December 2011
Aku dan LDK

Bismillahirrahmanirrahim in the name of Allah
TULISAN PUNGGUNG SANG PAHLAWAN
Written by Alif Rahman Hakim
Jambi, 2008. Bulan begitu sempurna, dikawal oleh bintang-bintang dan segerombol awan. Angin berhembus pelan. Suara gemericik air selokan terdengar samar. Jalan raya itu sepi, rumah-rumah terkunci, hanya sesekali kendaraan melintas memecahkan keheningan. Tapi tetap saja sepi, sesepi hatiku.
Hari ini, aku tak seberuntung kemarin. Buku-buku jualanku tak ada satupun yang membeli. Padahal, aku mulai berkeliling lebih awal. Mungkin, memang bukan hari ini rizkiku datang. Aku kembali dengan isi tas yang utuh. Nabi pernah berkata “Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin, maka ia adalah orang-orang yang beruntung”. Tapi aku, apa? Aku adalah orang yang lebih buruk dari kemarin. Buktinya, pendapatanku tak ada. Tak sesuai dengan umat yang diharapkan Nabi
Aku letih, pasrah. Minta ampun kepada Allah, sang pengendali kehidupan. Barangkali aku pernah melakukan dosa yang membuat Ia tak suka, sehingga sekarang langit menahan hasil kerja kerasku.
Dengan terengah-engah, aku terus mengayunkan kaki kearah jalan pulang. Hampir jam 12. Rumahku masih jauh, tiga kilometer lagi. Sementara tak ada satupun angkot atau ojek yang lewat. Terpaksa aku harus berjalan dengan kaki yang hampir roboh ini. Berat. Aku hampir putus asa. Tetapi setiap kali aku berfikir untuk menyerah, tergambar wajah Khanzana, istri yang kunikahi beberapa bulan lalu. Apalagi sekarang ia sedang mengandung calon buah hati kami, tak tega rasanya jika ia menderita. Biarlah aku yang pontang panting mencari nafkah. Kelak, akan kubelikan rumah yang indah, mesin cuci, kasur yang nyaman, televisi dan sebagainya, agar hidup kami sejahtera dan bahagia. Aku janji.
Oh iya, aku Gafur. 25 tahun. Lulusan SMA yang sekarang bekerja sebagai pedagang buku keliling. Sesekali aku juga berjualan obat herba alami dan islami yang bebas dari bahan kimia dan efek samping. Aku tinggal di desa Talinko, desa kecil dipinggir kota Jambi. Jaraknya sekitar 10 km dari pusat kota. Inilah desa dimana aku lahir dan besar. kelak, aku akan membuat desa ini maju. Itu cita-citaku.
Angin berhembus lebih kencang, menggoyangkan pohon-pohon beringin di pinggir jalan. Bulan mulai bersembunyi di balik kegelapan awan. Bintangpun lari. Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar, kilat menyambar, gerimispun turun. Merintikkan atap rumah-rumah warga yang sedang terlelap. Semakin dingin. Kupercepat langkahku, semoga Khanzana masih menungguku.
Hujan pun turun, semakin lebat. Aku berteduh di teras rumah kecil. Lebih tepatnya, pos yang sudah tidak digunakan untuk ronda lagi. Rumah mewah berlampu putih dan kuning terlihat begitu megah di seberang jalan. Begitu besar dan kokoh. Mungkinkah aku bisa memilikinya?. Mungkin.
Jam tangan casio-ku menunjukkan pukul 00.15, pasti Khanzana khawatir. Tak biasanya aku pulang selarut ini. Sebaiknya kuberi kabar lewat SMS bahwa aku masih di perjalanan pulang, sebaiknya dia tidur duluan.Mataku memandang ke kiri kanan jalan. Kosong. Suara juj-juj pun tak ada. Hanya rintikan hujan yang mengecil pertanda mulai reda. Tiba-tiba kulihat tiga orang berpakaian hitam. Satu diantaranya berambut gondrong. Satu berbadan besar, satu lagi kurus tinggi. Mereka berjalan mengendap-endap. Seakan-akan keberadaannya tidak ingin diketahui orang lain. Sangat mencurigakan. Si gondrong mengeluarkan sesuatu dari jaket hitamnya. Seperti kunci, bukan, lebih tepatnya jarum yang dapat berfungsi sebagai kunci. Yang dapat membuka hampir semua pintu. Ia masukkan jarum itu ke lubang kunci, lalu menggoyang-goyangkannya. Aku semakin curiga. Sebenarnya siapa mereka dan apa yang mereka inginkan? Mungkinkan mereka pencuri, atau perampok? Mungkin saja.
Kuputuskan untuk mendekati mereka dan bertanya.
“maaf tuan, apakah rumah ini milik anda? Bolehkan aku menumpang istirahat sebentar. Sungguh, aku kedinginan. Aku sakin orang-orang baik seperti anda tidak keberatan menolongku”. Tanyaku berpura-pura.
Mereka agak terkejut. Lalu salah tingkah. Si badan besar hendak menjawab
“kami hanya….” Langsung dipotong si gondrong.
“benar, ini rumah saya. Tadi kuncinya hilang sewaktu di diskotik, jadi terpaksa saya membukanya dengan jarum pembuka pintu ini”. Jawabnya
“waah, anda hebat sekali. Bahkan sebelum pergi ke diskotik, anda tahu kunci anda akan hilang. Sehingga anda mempersiapkan jarum pembuka untuk jaga-jaga. Benar-benar perhitungan yang matang. Kalau begitu, silahkan buka rumah anda.”
“tapi, em, hehe iya. Saya sedang berusaha”. Jawabnya terbata-bata.
Si gondrong meneruskan membuka pintu. Setelah berusaha beberapa menit, klek. Terbuka.
“tunggu, kalian ingin mencuri kan? Jujur saja. “ tembakku
Tanpa menjawab. Mereka langsung memelototiku. Tatapan kebencian.
“sekarang, habisi dia John!” kata si gondrong.
Jonh yang berbadan besar tiba-tiba meluncurkan pukulannya kearah perutku. Aku coba menangkis dengan tangan kiriku, tapi tangannya lebih kuat dan akupun terkena pukulan. Sakit, aku terbatuk-batuk. Buku-buku jualanku terjatuh berserakan. Lalu si kurus tinggi memegang tanganku erat. Giliran si gondrong menendang tepat di dadaku. Sakit bukan main. Dadaku sesak. Tak puas, si gondrong meluncurkan pukulan lagi akearah wajahku, sebelum pukulan itu mendarat, akau tendang tepat di perutnya. Untungnya ia kena. Tak sia-sia dulu aku pernah mengikuti bela diri Tapak Suci. Si kurus tinggi masih memgang tanganku erat dari belakang, kucoba melepaskan diri. Ketika ia lengah, aku sikukan sikutku ke perutnya, kena. Ia kesakitan dan mudah bagiku untuk lepas dari cengkramannya. Akupun lolos.
Jika aku meneruskan perkelahian ini, aku yakin aku yang akan kalah. Secara jumlah saja mereka lebih banyak. Aku putuskan untuk kabur saja. Yang terpenting, aku sudah berusaha menjalankan apa yang dikatakan ustadz dulu. “amar ma’ruf nahi mungkar dimanapun kau berada. Jadilah kader umat yang selalu berkorban. Maka kebahagiaanlah yang akan mencarimu.”
Sambil menahan rasa sakit, aku berlari sekencang-kencangnya. Nafasku terengah-engah. Berat dan sesak. Bagaimanapun, mereka dapat berlari lebih kencang dariku. Si gondrong hampir menangkapku. Tapi terus kupercepat lariku. Aku tidak mau mati konyol.
Aku terus berlari melewati lorong yang sempit. Percikan air sisa-sisa hujan yang menggenang mengotori sepatu hitamku. Pencuri-pencuri itu sudah tidak terlihat lagi. Tertinggal dibelakang. Mungkin inilah yang dinamakan The Power of Kepepet. Saat dalam bahaya, manusia bisa berlari sangat kencang, bahkan pagar yang tingginya tiga meter pun bisa di loncati.
Persis di depan sebuah rumah kecil, aku kelelahan dan terjatuh. Pandanganku kabur dan samar. Teriakan pencuri-pencuri itu terdengar semakin mendekat. Tapi aku sudah tak kuat lagi. Kucoba tuk berdiri. Tetapi pandanganku malah menjadi gelap. Lalu kembali kabur. Seperti kaca yang dihinggapi embun.
Beberapa saat kemudian, kulihat ada empat orang. Tiga diantara mereka adalah pencuri itu. Tapi yang satu lagi bukan lah orang yang kukenal. Ia membelakangiku sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Hanya tulisan di jaket hijaunya yang dapat ku baca. “LDK AL-USWAH”. Tulisan di punggung iu, bergoyang-goyang. Lalu kabur. Setelah itu akupun tak bisa melihat apapun. Semoga orang yang dipunggungnya bertuliskan LDK AL-USWAH tadi adalah orang kiriman Allah untk menolongku. Akupun ambruk, tak sadarkan diri.
Saat sadar, Khanzana sudah di sampingku. Aku terbaring lemah. Seorang lelaki sekitar seumuran denganku, ada di sebelah Khanzana. Wajahnya tidak terlalu asing. Hanya potongan rambutnya saja yang agak berubah. Dengan agak terkejut, aku panggil dia,
“Arfan! Benarkah itu dirimu”
“Iya, tadi kau kutemukan di jalan dekat rumah pamanku. Sesorang telah menolongmu melawan para penjahat itu, tapi dia juga babak belur. “ jawab Arfan.
“apa kau mengenalnya?” tanyaku.
“Tidak, apa kau mengingat wajahnya?”
“Tidak, hanya tulisan di punggungnya.”
“apa?”
“LDK AL-USWAH. Siapa pun dia, terima kasih”.
“terima kasih, sesorang dari LDK AL-USWAH”.
Tak lama kemudian, Arfan pamit pulang. Aku dan istriku, Khanzana, tertidur dengan menyimpan ketenangan. “Wajah yang berseri. Hidup ini indah”. kataku.
Subscribe to:
Posts (Atom)